Selama beberapa tahun terakhir, narasi yang terus digoreng media adalah: "AI bakal menggantikan programmer! Kiamat koding sudah dekat!"
Tapi realitanya, ada satu efek samping dari ledakan Kecerdasan Buatan yang nyaris nggak pernah dibahas orang, sampai seorang engineer papan atas bernama Kasra Kyanzadeh menampar kita dengan realita: **AI nggak mengeliminasi programmer, AI justru bikin koding jadi membosankan setengah mati.**
Kasra bukan programmer medioker. Dia adalah karyawan ke-4 di Airtable, orang pertama di startup unicorn Watershed, dan baru-baru ini bergabung dengan tim Codex di OpenAI. Dengan resume sebrutal itu, dia tiba-tiba mengumumkan resign dari OpenAI minggu ini.
Alasannya bukan karena OpenAI krisis (dia bahkan menganggap valuasi OpenAI saat ini terlalu diremehkan). Dia cabut karena ingin mencoba peruntungan di industri perfilman. Kenapa? Karena membuat perangkat lunak komersial sudah kehilangan daya tariknya.
Hilangnya Flow State dan Kesepian di Balik Layar
Rasanya beda banget kan, pas lu lagi ngebangun sistem manajemen undangan pernikahan digital yang kompleks. Dulu, lu bener-bener ngerasain nikmatnya ngetik komponen UI satu per satu pakai Tailwind, ngerangkai logika state di TypeScript pelan-pelan, sampai ngatur skema relasi database di Prisma.
Ada kepuasan batin dan flow state (fokus tingkat dewa) yang bikin lu lupa waktu. Kepala lu yang ngebayangin sistemnya, tangan lu yang mewujudkannya.
Sekarang? Agen AI yang nulis hampir semua kodenya.
Menurut Kasra, pergeseran ini membawa tiga dampak mental yang sangat menguras tenaga bagi para developer:
| Penderitaan Baru Programmer Era AI | Penjelasan Realita Lapangan |
|---|---|
| Interaksi Manusia Minus | Kerja bareng rekan setim berkurang drastis karena pair programming sekarang dilakukan bareng robot. Efeknya? Sepi dan burnout. |
| Kematian *Flow State* | Lu nggak lagi masuk ke zona fokus mendalam. Kerjaannya cuma gonta-ganti konteks (context switching) dari satu baris tugas ke tugas lain yang dikerjain Agen AI. |
| Berubah Jadi "Mandor" Kode | Lu nggak lagi nyiptain barang. Waktu lu abis buat ngelototin hasil generate AI, nge-review kode (Code Review), dan nebak-nebak kompleksitas sistem. |

💻 Dari "Kreator" Menjadi "Pengawas Proyek"
Daya tarik utama software engineering selama puluhan tahun adalah memfasilitasi orang-orang terpintar dan paling kreatif di dunia untuk menciptakan keajaiban dari nol.
Namun, perhatikan bagaimana paradigma kerja kita telah bergeser:
// Programmer mikir keras nyusun logika algoritma dari nol.function calculateComplexSystem() { // Buka dokumentasi, mikir 2 jam, nyusun array dan loop yang elegan. // Rasanya bangga banget pas kodenya berhasil jalan tanpa error! let result = tryHardToBuildThis(); return result;}Workflow kita perlahan berubah, dan ini yang bikin orang-orang kreatif seperti Kasra muak:
Seniman Suhu Rendah dan Pelarian ke Dunia Seni
Keputusan Kasra untuk beralih ke film mengonfirmasi sebuah tren aneh. Makin banyak engineer papan atas yang meninggalkan perangkat lunak komersial dan beralih ke ranah seni, pembuatan hardware, atau riset murni. Mereka mencari tempat baru di mana mereka bisa menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri.
Fenomena ini mengingatkan kita pada analogi "Peradaban Seniman Suhu Rendah" di novel fiksi ilmiah The Three-Body Problem karya Liu Cixin. Ketika sebuah peradaban sudah terlalu maju dan mesin bisa melakukan semua hal praktis, orang-orang geniusnya hanya punya satu tujuan hidup yang tersisa: mengejar kreasi seni.
Umat manusia menghabiskan puluhan tahun bikin mesin yang bisa nulis kode. Tapi begitu mesinnya benar-benar jago, programmer terbaik kita malah sadar: ternyata yang bikin mereka bahagia dari dulu bukanlah sekadar membuat aplikasi komersial, melainkan sensasi kepuasan menciptakannya secara mandiri.
Produktvitas software ke depannya bakal meledak tajam, tapi profesi ini perlahan kehilangan jiwanya. Kalau 5 tahun lagi AI udah bisa nge-handle seluruh logika infrastruktur backend dan frontend lu, apakah lu bakal tetap stay jadi programmer, atau ikutan banting setir jualan kopi dan bikin film?