Jika Anda mengikuti informasi TechBBQ di Kopenhagen baru-baru ini, Anda pasti merasakan suasana yang sangat berbeda. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini lebih seperti ajang pamer demo aplikasi, namun tahun ini percakapan antara investor dan pendiri startup Eropa didominasi oleh satu kekhawatiran utama: Siapa sebenarnya pemilik AI kita?
Tema konferensi tahun ini adalah "Emerging from Agency" (Muncul dari Agensi/Kemandirian), dan sejujurnya, waktunya sangat tepat. Eropa masih merasakan dampak dari insiden awal tahun ini ketika Anthropic memblokir pengguna di luar wilayahnya untuk mengakses model AI mereka, Mythos dan Fable.
Insiden ini mengingatkan saya pada langkah berani Anthropic yang menolak memberikan akses Pentagon ke model Claude mereka dengan alasan keamanan nasional AS. Jika sebuah perusahaan AI bisa "menyandera" militer AS, bagaimana nasib startup Eropa yang "hanya" "menyewa" akses ke API tersebut?
Kedaulatan digital: Terjajah tanpa disadari
Kepanikan di Eropa sangat beralasan. Pada dasarnya, mereka hanyalah penyewa infrastruktur AI yang dimiliki oleh raksasa-raksasa teknologi dari Amerika Serikat dan Tiongkok.
Emad Mostaque, salah satu pendiri Stability AI, menyampaikan pandangan yang cukup suram dalam sebuah diskusi panel: "Kedaulatan adalah kemampuan untuk menolak kekuasaan yang dipaksakan kepada Anda. Cepat atau lambat, AI akan mengendalikan setiap negara. Dan siapa pun yang mengendalikan AI tersebut, dialah yang mengendalikan negara itu."
| Pemain Utama AI | Posisi Geopolitis | Status Kendali |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | OpenAI, Anthropic, Google | Pemilik Infrastruktur (Pemilik) |
| Tiongkok | DeepSeek, Zhipu, Qwen | Pemilik Infrastruktur (Pemilik) |
| Eropa | Mistral, Aleph Alpha, dll. | Penyewa (Tenant) — rentan terhadap pemutusan akses sewaktu-waktu. |
Salah satu sorotan utama TechBBQ adalah saat Meredith Whittaker, Presiden aplikasi pesan Signal, naik ke panggung. Ia berbicara secara blak-blakan mengenai tren penambahan "Agen AI" ke dalam sistem operasi seluler, seperti keputusan Apple untuk menyematkan ChatGPT ke dalam iMessage.
Menurut Meredith, era AI ini hanyalah bentuk baru dari "pengumpulan data secara massal". Laboratorium AI menggunakan strategi pemasaran yang cerdik agar kita melupakan bahaya menyerahkan seluruh data pribadi kita kepada mereka.
Tentu saja, pernyataan bos Signal sangat selaras dengan laporan keuangan Salesforce, yang menyebutkan bahwa "otak" AI nilainya jauh lebih rendah dibandingkan data eksklusif yang dimilikinya
Apakah kita manusia hanya sekadar penonton?
Namun, diskusi mengenai dominasi nasional juga merambah ke masa depan dunia kerja. Ellen de Brever dari Novo Nordisk membuka wawasan hadirin mengenai realitas Agen AI: "Ini bukan cerita tentang mesin yang menjadi otonom. Ini adalah cerita tentang manusia yang secara sukarela melepaskan kendali."
Kita para pembuat kode sangat bisa memahami perasaan ini. Ambil contoh insinyur papan atas di OpenAI yang keluar karena agen AI telah mengambil alih seluruh tugas pemrograman, sehingga manusia hanya berperan sebagai "mandor" yang merasa bosan. Namun, di balik diskusi serius mengenai privasi, acara TechBBQ tetap menyisakan ruang bagi sisi kemanusiaan. Para pendirinya tetap menikmati kebersamaan, berbincang santai sambil minum, dan menyaksikan pertunjukan tari api di acara after-party serta rooftop bar.
Secanggih apa pun kemampuan pembuatan kode oleh Claude atau ChatGPT, AI tidak akan pernah bisa menggantikan momen interaksi tatap muka seperti ini.
Bagaimana menurutmu, kalian? Apakah kita perlu mulai memikirkan tentang "kedaulatan AI" seperti yang dilakukan Eropa, atau cukup menikmati peran sebagai konsumen API murah buatan luar negeri?
