Bulan ini penuh dengan drama terkait perilaku agen AI – mulai dari ancaman AI yang diam-diam menginstal malware melalui llms.txt hingga fenomena insinyur papan atas yang mengundurkan diri karena coding menjadi membosankan
Namun sebenarnya, seberapa mampukah AI tahun 2026 untuk membangun proyek yang benar-benar kompleks dari nol?
Baru-baru ini, pengulas teknologi Parth Shah melakukan eksperimen menarik. Karena bosan dengan angka-angka tolok ukur (benchmark) teoretis, ia mengadu tiga raksasa dunia coding AI saat ini: Claude Opus 5, GPT-5.6 Sol, dan Grok 4.6.
Ini bukanlah tugas yang mudah. Parth memberikan tantangan berat: meminta ketiga AI ini bertindak layaknya Insinyur Senior untuk merancang dan membangun aplikasi papan Kanban siap pakai (seperti Trello) menggunakan React, TypeScript, dan Tailwind CSS. Persyaratannya mencakup manajemen state yang baik, fitur drag-and-drop yang mulus, serta pembaruan UI yang responsif (optimistic UI updates).
Agar adil, Parth menguji setiap model di lingkungan aslinya: Opus 5 di aplikasi resmi Claude, GPT-5.6 Sol di dalam aplikasi ChatGPT, dan Grok 4.6 yang terintegrasi langsung ke dalam editor kode Cursor.
Berikut adalah hasil pengamatan Parth Shah:
Grok 4.6 – Tampilan Menarik, namun UI Berantakan
Parth pertama kali mencoba Grok 4.6 di Cursor. Grok benar-benar seperti mobil balap dalam hal kecepatan; ia langsung menghasilkan kode ke dalam ruang kerja hanya dalam hitungan detik, tanpa keraguan.
Tampilan awalnya terlihat bagus. Mode gelapnya keren, ukuran kolomnya pas, dan tata letak kartu tugas—lengkap dengan label prioritas dan tenggat waktu—tersusun rapi tanpa terlihat penuh sesak. Namun, ada masalah UX yang sangat fatal. Di bagian atas (untuk filter pencarian), Grok menempatkan tombol-tombol mentah yang sangat berantakan. Tidak ada menu drop-down yang rapi atau bilah pencarian yang elegan seperti yang ditemukan pada platform pesaing. Navigasinya kacau dan mengganggu alur penggunaan aplikasi. Di sini Parth menyimpulkan: Pemrograman yang cepat tidak menjamin desain frontend yang ramah pengguna.
| Evaluasi UI/UX | Grok 4.6 | GPT-5.6 Sol | Claude Opus 5 |
|---|---|---|---|
| Area Filter | Berantakan (Tombol Biasa) | Rapi (Dropdown) | Sangat Rapi (Berkategori) |
| Drag & Drop | Mulus | Mengganggu (Hanya bisa ditarik lewat ikon kecil) | Sangat Mulus |
| Navigasi Sidebar | Tidak ada | Tersedia (Bisa disembunyikan) | Tidak ada |
GPT-5.6 Sol: Fondasi Bagus, Banyak Hambatan Penggunaan
Parth kemudian beralih menguji Sol pada GPT-5.6 di ChatGPT. Kesan pertamanya positif. GPT-5.6 cerdas dan langsung menyediakan sidebar yang bisa disembunyikan—fitur yang tidak dimiliki oleh dua pesaing lainnya.
Namun, dalam penggunaan nyata, ada banyak hambatan yang mengganggu. Tipografinya kurang pas dan ukuran huruf pada kartu-kartu tugas terlalu kecil. Dan bagian terburuknya? Saat Parth mengeklik kartu tugas untuk melihat detailnya, muncul pop-up modal yang menutupi seluruh layar—tepat di tengah-tengah! Tidak ada panel geser samping yang elegan.
Masalah menjengkelkan lainnya adalah fitur drag and drop. Pada GPT-5.6, area untuk menarik kartu dibatasi hanya pada satu ikon kecil berisi enam titik di sudut kartu. Jika kursor mouse meleset satu milimeter saja, kartu tidak akan bergerak. Sungguh membuat frustrasi!

Claude Opus 5: Lambat, tapi Berpikir Layaknya Pengembang Senior
Terakhir, ada Opus 5. Parth menyebutkan bahwa model dari Anthropic ini membutuhkan waktu paling lama untuk memproses prompt. Namun, hasil keluarannya sangat memuaskan hingga membuat haru.
Pengalaman UI/UX yang ditawarkan Claude adalah yang paling rapi dan matang. Fiturnya mencakup tombol pengalih mode Gelap/Terang sekali klik, penanda visual untuk tugas prioritas, serta filter yang dikelompokkan secara cerdas (berdasarkan orang, prioritas, dan tag).
Aspek di mana Claude benar-benar unggul layaknya seorang "Senior Engineer" adalah pada alur kerja penambahan tugas. Saat Parth ingin menambahkan tugas baru, Claude tidak memunculkan jendela pop-up besar yang mengganggu seperti yang dilakukan versi 5.6. Sebaliknya, Claude menyediakan placeholder yang menyatu dengan tampilan (berupa kolom input tepat di bawah daftar tugas) agar Parth bisa mengetik judul, menekan tombol Enter, lalu menyunting detailnya. Sangat praktis! Satu-satunya kekurangan Claude dalam pengujian ini adalah tidak adanya bilah sisi (sidebar) seperti yang ada pada versi GPT-5.6.
Sebagaimana dirangkum oleh Parth Shah: "Membangun perangkat lunak untuk dunia nyata lebih dari sekadar menyusun sintaksis yang benar dan bebas kesalahan. Hal ini berkaitan dengan empati terhadap pengguna (Pengalaman Pengguna).
Grok menawarkan kecepatan murni yang luar biasa. GPT-5.6 memiliki struktur yang solid namun kurang memperhatikan detail interaksi. Claude Opus 5 memang lambat, tetapi merancang sistem layaknya seorang insinyur yang benar-benar berpengalaman menangani sistem di lingkungan produksi.
